15 Apr 2017

Seutas Cerita Hidup Mahasiswa Jurusan Arkeologi


Namanya juga anak Jurusan Arkeologi, pasti pernah ngelakuin penggalian. Buat lu yg lagi baca ini, penggalian anak Arkeo tuh nggak sembarangan. Penggalian arkeologi pasti dilakuin di situs arkeologi, nggak mungkin di situs youtube. Kelebihan dari situs arkeologi dibanding situs youtube adalah situs arkeologi bisa digali. Eh tapi youtube bisa di-subscribe sih ya? Yaudah, semua ada kelebihan & kekurangannya lah.
Oh iya, terus juga sebelum penggalian, perlu ada pertimbangan-pertimbangan kayak alasan & tujuan milih kotak gali, ada pengukuran juga, pokoknya nggak asal gali lah. Beda sama penggalian kabel, atau sumur. Eh penggalian kabel sama sumur juga nggak bisa sembarangan ya? Ya berarti nggak boleh sembarangan lah kalo ngapa-ngapain. Nah, setelah gali-gali tanah pun kita nggak lepas dari tugas. Masih ada laporan harian, gambar kotak gali, foto kotak gali, dan temuan yang harus diurus.
Sebagai anak Arkeo, minimal ngerasain lah 1 kali penggalian, yaitu waktu Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Tapi kalo misalnya lu rajin, terampil, tangkas, dan berani, bisa lah ngerasain beberapa kali penggalian. Ya kadang nggak semua anak Arkeo pengen ikut penggalian sih, ada juga yang mikir “ah udahlah sekali-dua kali aja, kan yg penting yg wajib”, tapi ada juga yang mikir “wah kesempatan nih. Lumayan lah daripada dana umum”.
Jadi anak Arkeo itu harus siap ngerasain pahit manis bareng-bareng. Bayangin aja, hampir 2 minggu bareng dari bangun tidur sampe bangun tidur. Ada cewek yang keliatannya biasa aja, tapi ternyata rajin banget. Ada juga cowok yang keliatannya pendiem, kalem, tapi ternyata orangnya suka tertelisut sama barang-barangnya. Tertelisut apa ye? Kayak ceroboh gitu lah. Ada juga cewek yang ternyata udah cantik, baik, rajin, pokoknya perfect lah, eh bukan anak Arkeo.

Pokoknya selama KKL itu kenalan lebih dalem lah tentang temen. Makin tau baik buruk, makin tau lebih kurang, makin mikir kenapa motif sarung kebanyakan kotak-kotak, dan lain-lain. Jadi tau, ada temen yang nggak suka kuning telor, ada yang gak suka kecap, ada yang gak suka pedes. Intinya, buat apa reklamasi kalau nanti hanya investor asing yang diberi kesempatan? Kalau masyarakat sekitar yang telah lama disana justru kehilangan haknya, bukannya itu dirampas? Lestarikan Bumi Pertiwi, kembalikan senyum nelayan yang hilang bersama dengan lahannya. Tolak Reklamasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar