Tahun Baru 2018 diwarnai dengan
kondangan gua terjauh selama 23 tahun gua hidup. Dimana? Di Malang. Mungkin
Malang bukan lokasi yang jauh bagi kalian yang tinggal di Jawa Timur, tapi
untuk saya yang tinggal di Kota Tangerang Selatan, ya jauh dong. Gua dateng ke
kondangan ini juga karena pengantin pria nya adalah temen deket gua waktu SMA,
jadi seolah ini adalah tugas seorang calon raja bajak laut untuk menempuh
perjalanan demi seorang nakama.
Jadi perjalanan ke Malang ini
dimulai dari Pasar Senen, dimana stasiun merupakan tempat untuk naik kereta.
Bukan sih ya, naik kereta sebenernya kan dari pintu. Tapi kalo gak ke stasiun
kan gak bisa ke pintu kereta. Nah berangkat ke Malang ini kan naik kereta ya,
jadi otomatis turunnya pun di stasiun Malang. Oh iya, gua berangkat ke sana
tanggal 29 Desember 2017 sore dan sampe di Malang itu esok paginya.
Setelah sampe di Malang, kami
dikumpulkan di satu rumah gitu buat basecamp. Oh iya, dari Jakarta kami tuh
berangkat 6 orang, sementara ada beberapa orang lagi yang nyusul dari kota
lain. Setelah sampai di basecamp, kami istirahat lah tuh sembari menunggu malam
datang karena malamnya nanti tuh akad nikah.
Pada malam harinya, akad nikah
dilaksanakan di kediaman mempelai wanita. Ikut campur aduk sih, antara seneng,
terharu, kedinginan, ngantuk, dan masih belum percaya kalo dia sudah menjadi
seorang kepala keluarga. Padahal dulu jaman SMA mah dia masih pelajar. Lah ya
iyalah. Resepsi diadakan esok harinya, tanggal 31 Desember. Resepsi berjalan
dengan menyenangkan seperti resepsi-resepsi lainnya. Ada salaman dengan
pengantin, foto bareng temen-temen SMA, pondokan sate, siomay, dan pudding.
Pasca pulang dari resepsi, kami
semua balik ke basecamp. Nggak semua sih, pengantinnya nggak ikut. Besannya
juga nggak ikut. Nah abis balik ke basecamp, sebagian dari kami pergi lagi ke
supermarket untuk beli bahan-bahan untuk dibakar pas tahunbaruan. Gua, sebagai
pribadi yang mengutamakan keamanan, memilih untuk menjaga basecamp dengan satu
orang temen. Kebetulan waktu itu pas mau akhir season Mobile Legends jadi kami
sambil main. Tapi sambilan aja, yang utama kan tetep menjaga basecamp dari
gangguan binatang buas.
Setelah teman-teman pulang dari
supermarket, rupanya ada beberapa hal yang terlupakan, yaitu arang dan minyak
tanah. Ingin berguna, gua pun mengajukan diri untuk mencari arang & minyak
tanah dengan menggunakan motor temen yang tinggal di sana. Karena hp gua lowbat
dan mikir “ah cuma daerah sekitar sini pasti ada lah tukang arang kan mau
tahunbaruan juga, jadi gak perlu bawa hp lah”. Akhirnya berangkatlah saya dan
motor disertai rasa ingin berpetualang namun sok tau.
Gua sadar kalo gua orangnya
gampang nyasar, jadi gua lihat sekeliling gua sebagai patokan terutama ketika
ada persimpangan jalan. Misalnya “oh ada papan notaris gua belok kiri”, atau
“oh ada rumah tingkat krem pagernya item gua lurus”, atau “oh ada kucing oren
gua belok kanan”. Namun rupanya hal tersebut berlaku tidak terlalu lancar
karena susah juga cari minyak tanah. Ah rasanya ingin kusalahkan saja
pemerintah, tapi lebih baik aku mencari lebih giat lagi. Akhirnya gua menemukan
tempat yang jual arang, tapi sayangnya dia gak jual minyak tanahnya juga. Ah,
keliling lagi deh. Semakin jauh, semakin jauh, akhirnya gua menyerah, dan
memutuskan beli Pertalite sebagai penggantinya. “Ih kok Pertalite? Nggak
bahaya?”, tidak wahai temanku. Sampai tulisan ini diketik, orang-orang yang
makan pada malam itu masih hidup semua.
Singkat cerita, setelah dapet
arang & pertalite, gua balik lagi ke basecamp. Ada hal-hal ganjil yang gua
liat saat pulang. Tiba-tiba lewat Almafart, tiba-tiba lewat sekolah, padahal
gua nggak ngelewatin itu waktu berangkat. Benar saja, gua gak nemu lagi rumah
tingkat, papan notaris, dan kucing oren.
Benar saja, selesai cari arang
& pertalite, sekarang gua harus cari jalan pulang. Haduh. Bayangkan,
tersesat di Malang, tanpa handphone dan gak tau sama sekali nama perumahan,
nomer rumah, atau siapapun yang tinggal di daerah situ. Sekitar 30menit
muter-muter, akhirnya gua nanya ke orang. Tentu sia-sia karena gua gak tau
alamat & sama sekali gak bawa hp. Mau pinjem hp untuk nelfon hp gua, tapi
baru inget kalo hp gua mati. Mantul, mantap betul. Perjalanan berlanjut dengan
sore yang semakin menuju senja.
Terus berputar mencari jalan,
akhirnya gua menemukan jalan pulang ke basecamp. Ya Tuhan, aku ingin menangis
sambil merayakan kepulanganku sendiri. Sesampainya di basecamp, gua cuma bilang
kalo susah cari minyak tanah dan akhirnya beli pertalite sekalian jalan-jalan. Teman-temanku
tidak bertanya mengapa aku bisa ‘jalan-jalan’ dari jam 3 sore-an sampe mau
maghrib tanpa HP di Malang.
Plis lah saya kenapa ketawa terus bacanya
BalasHapus