29 Apr 2019

Kondangan Setahun


Tahun Baru 2018 diwarnai dengan kondangan gua terjauh selama 23 tahun gua hidup. Dimana? Di Malang. Mungkin Malang bukan lokasi yang jauh bagi kalian yang tinggal di Jawa Timur, tapi untuk saya yang tinggal di Kota Tangerang Selatan, ya jauh dong. Gua dateng ke kondangan ini juga karena pengantin pria nya adalah temen deket gua waktu SMA, jadi seolah ini adalah tugas seorang calon raja bajak laut untuk menempuh perjalanan demi seorang nakama.

Jadi perjalanan ke Malang ini dimulai dari Pasar Senen, dimana stasiun merupakan tempat untuk naik kereta. Bukan sih ya, naik kereta sebenernya kan dari pintu. Tapi kalo gak ke stasiun kan gak bisa ke pintu kereta. Nah berangkat ke Malang ini kan naik kereta ya, jadi otomatis turunnya pun di stasiun Malang. Oh iya, gua berangkat ke sana tanggal 29 Desember 2017 sore dan sampe di Malang itu esok paginya.

Setelah sampe di Malang, kami dikumpulkan di satu rumah gitu buat basecamp. Oh iya, dari Jakarta kami tuh berangkat 6 orang, sementara ada beberapa orang lagi yang nyusul dari kota lain. Setelah sampai di basecamp, kami istirahat lah tuh sembari menunggu malam datang karena malamnya nanti tuh akad nikah.

Pada malam harinya, akad nikah dilaksanakan di kediaman mempelai wanita. Ikut campur aduk sih, antara seneng, terharu, kedinginan, ngantuk, dan masih belum percaya kalo dia sudah menjadi seorang kepala keluarga. Padahal dulu jaman SMA mah dia masih pelajar. Lah ya iyalah. Resepsi diadakan esok harinya, tanggal 31 Desember. Resepsi berjalan dengan menyenangkan seperti resepsi-resepsi lainnya. Ada salaman dengan pengantin, foto bareng temen-temen SMA, pondokan sate, siomay, dan pudding.

Pasca pulang dari resepsi, kami semua balik ke basecamp. Nggak semua sih, pengantinnya nggak ikut. Besannya juga nggak ikut. Nah abis balik ke basecamp, sebagian dari kami pergi lagi ke supermarket untuk beli bahan-bahan untuk dibakar pas tahunbaruan. Gua, sebagai pribadi yang mengutamakan keamanan, memilih untuk menjaga basecamp dengan satu orang temen. Kebetulan waktu itu pas mau akhir season Mobile Legends jadi kami sambil main. Tapi sambilan aja, yang utama kan tetep menjaga basecamp dari gangguan binatang buas.

Setelah teman-teman pulang dari supermarket, rupanya ada beberapa hal yang terlupakan, yaitu arang dan minyak tanah. Ingin berguna, gua pun mengajukan diri untuk mencari arang & minyak tanah dengan menggunakan motor temen yang tinggal di sana. Karena hp gua lowbat dan mikir “ah cuma daerah sekitar sini pasti ada lah tukang arang kan mau tahunbaruan juga, jadi gak perlu bawa hp lah”. Akhirnya berangkatlah saya dan motor disertai rasa ingin berpetualang namun sok tau.

Gua sadar kalo gua orangnya gampang nyasar, jadi gua lihat sekeliling gua sebagai patokan terutama ketika ada persimpangan jalan. Misalnya “oh ada papan notaris gua belok kiri”, atau “oh ada rumah tingkat krem pagernya item gua lurus”, atau “oh ada kucing oren gua belok kanan”. Namun rupanya hal tersebut berlaku tidak terlalu lancar karena susah juga cari minyak tanah. Ah rasanya ingin kusalahkan saja pemerintah, tapi lebih baik aku mencari lebih giat lagi. Akhirnya gua menemukan tempat yang jual arang, tapi sayangnya dia gak jual minyak tanahnya juga. Ah, keliling lagi deh. Semakin jauh, semakin jauh, akhirnya gua menyerah, dan memutuskan beli Pertalite sebagai penggantinya. “Ih kok Pertalite? Nggak bahaya?”, tidak wahai temanku. Sampai tulisan ini diketik, orang-orang yang makan pada malam itu masih hidup semua.

Singkat cerita, setelah dapet arang & pertalite, gua balik lagi ke basecamp. Ada hal-hal ganjil yang gua liat saat pulang. Tiba-tiba lewat Almafart, tiba-tiba lewat sekolah, padahal gua nggak ngelewatin itu waktu berangkat. Benar saja, gua gak nemu lagi rumah tingkat, papan notaris, dan kucing oren.

Benar saja, selesai cari arang & pertalite, sekarang gua harus cari jalan pulang. Haduh. Bayangkan, tersesat di Malang, tanpa handphone dan gak tau sama sekali nama perumahan, nomer rumah, atau siapapun yang tinggal di daerah situ. Sekitar 30menit muter-muter, akhirnya gua nanya ke orang. Tentu sia-sia karena gua gak tau alamat & sama sekali gak bawa hp. Mau pinjem hp untuk nelfon hp gua, tapi baru inget kalo hp gua mati. Mantul, mantap betul. Perjalanan berlanjut dengan sore yang semakin menuju senja.

Terus berputar mencari jalan, akhirnya gua menemukan jalan pulang ke basecamp. Ya Tuhan, aku ingin menangis sambil merayakan kepulanganku sendiri. Sesampainya di basecamp, gua cuma bilang kalo susah cari minyak tanah dan akhirnya beli pertalite sekalian jalan-jalan. Teman-temanku tidak bertanya mengapa aku bisa ‘jalan-jalan’ dari jam 3 sore-an sampe mau maghrib tanpa HP di Malang.