26 Jan 2019

Orkes Penyintas Kepulauan Seribu


Kejadian ini terjadi waktu 2016 sampai 2017. Setahun? Nggak juga sih. Bingung? Jadi sebenernya ini adalah cerita tentang tahun baru 2017. Iya dong, kan mulainya dari 2015 kan? Okay skip, mari langsung bercerita.
Gua punya band, namanya Sudhobool (coba klik deh). Pada suatu waktu, band gua ini diundang sama sebuah jasa trip untuk ngisi acara tahun baruan di Kepulauan Seribu. Nah, ini kan salah satu tawaran yang menarik buat band kecil-kecilan. Yang terlintas di pikiran gua sih “lumayan lah, itung-itung tahun baruan gratis.”. Setelah diskusi mengenai rundown & teknis acara, gua dan temen-temen setuju. Sebagian dari kami ada yang nggak ikut karena ada agenda lain. Kalo nggak salah waktu itu ada 10 orang. Intinya, kami ditanggung selama trip tersebut (transport kapal, makan, bbq), kalau ada lebih ya bisa untuk fee.
Pada hari H, 31 Desember 2017, kami ngumpul di kost salah satu personel. Kami pikir biar berangkat bareng ke stasiun nggak terlambat. Oh iya, kami dan pihak penyedia trip (sebut aja XX) janjian di St. Jakarta Kota sekitar jam 6an. Menyadari bahwa aktivitas pagi adalah musuh kami, maka kami ngumpul bareng juga biar gak ada yang kesiangan. Akibat kebiasaan yang sulit hilang, di antara kami ada yang tidur 2 jam, 3 jam, bahkan gak tidur. Antusias bosqu.
Setelah sampe di St. Jakarta Kota, ternyata pihak XX belum dateng. Kami hubungin, akhirnya kami disuruh berangkat dulu ke Muara Kamal. Rundown hanya sekedar rundown. Di jadwal kami tertulis jam 8 sudah naik kapal, tapi rombongan XX dan peserta lain baru dateng jam 10.30. Gua mencoba berpikir positif, mungkin mereka berangkat dari Dubai (GMT +4).
Setelah mencoba menahan gondok, kami akhirnya berangkat. Tujuan pertama ke Pulau Kelor. Satu hal yang identik di pulau ini adalah Benteng Martello. Ketika meletakkan kaki kami di pulau ini, sebagian dari kami jalan-jalan keliling pulau, kecuali Bacang, Hanief, dan Iyus. Iyus wajar, dengan jiwa siluman kukang, sangat sulit melihat dia beraktivitas di siang hari.
Okay skip, lanjut ke pulau selanjutnya, Pulau Onrust. Pulau ini tempat kami bermalam. Di sini juga nanti kami akan perform, makan, tidur, bertanding badminton, serta memanen getah karet. Waktu sampe di Onrust, hal yang kami cari adalah makanan. Sebenernya nggak cuma di Onrust, kami emang selalu nyari makanan. Gua agak sedikit curiga karena “hm bukannya seharusnya dapet makan? Ah mungkin aku saja yang terlalu berharap.”. Akhirnya karena kelaperan, kami terpaksa makan di warung nasi di sana.
Gua dan Tyo pesen nasi, sayur sop, telur, & 1 gorengan. Harganya 17ribu. Wah ini Onrust atau perkantoran di Sudirman ya? Ah yasudah deh, daripada laper. Kemudian Yudha dateng, dia juga mau makan. Dia mikir “ikan adalah komoditi, harusnya lebih murah”. Nyatanya? Nasi dan ikan juga harganya 17ribu. Mungkin di sini 17ribu rupiah adalah harga makan apapun, mau sayur, tahu, ikan, jerami, fiber optik, dan lain-lain.
Malam pun menjelang, mendekati waktu kami perform. Akhirnya pihak XX ngomong sama kami (Iya, sejak naik kapal sampe hampir jam 20.00 WIB (bukan waktu Dubai lagi), pihak tersebut gak ngomong apa-apa dengan kami). Kami ditanya, mau makan malam dulu atau perform dulu, kami pilih perform aja dulu. Kami perform akustikan, sembari duduk melingkar dengan para peserta trip di kiri-kanan-depan kami. Daripada perform akustikan, waktu itu sebenernya lebih mirip dengan pengajian aliran sesat.
Singkat cerita, selesai perform kami makan malam. Abis makan malam, kenyang. Yaiyadong. Pokoknya skip lah ya sampe tahun baru jam 00.00, jeger jeger, abis itu tidur. Di cottage? Guest house? Tidak. Kami tidur di saung. Di pinggir pantai, tengah malem, nggak mungkin dingin lah ya? Sebagian dari kami masih mempertanyakan. “makan, minum, dan lain-lain itu tenang aja, apa maksudnya XX yang tenang aja ya? Kita makan siang beli, jajan beli, minum beli. Makan malem doang dapet. Ah sudahlah, besok pasti dapet sarapan kan?”. Salah, tentu salah. Kami sarapan masing-masing. Dengan isi dompet (yang percaya diri gak usah bawa cash) yang ada, kami sarapan nasi putih, pop mie, dan gorengan. Pokoknya kami berusaha makan yang ada, masih untung kami gak mencoba fotosintesis.
Esoknya, kami pulang menuju Jakarta lagi. Eh maksudnya Pulau Jawa. Gua inget, waktu itu kami pulang berbarengan sama sebuah insiden kapal yang terbakar di laut, syukur kami masih selamat sampe sekarang. Setelah sampe di Pulau Jawa, kami puas-puasin jajan, minum, dan hal-hal lain yang sebenernya biasa aja. Oh iya, di Kep. Seribu sana, kita agak ketahan untuk jajan karena di sana yang murah hanya senyum.
Itu aja yang bisa diceritain, kalo terlalu detail nanti dianggep pencemaran nama baik atau apa ehehe. Yasudah, intinya belajarlah bertahan hidup. Walaupun masih di Provinsi DKI Jakarta, dibilang bakal ditanggung semuanya, tetep lah harus siap-siap semuanya. Minimal siapin obat maag.



1 komentar: