Dulu nyokap gua adalah seorang
karyawan di perusahaan swasta. Gua lupa bidangnya apa, yang pasti bukan bidang
miring.
Pada suatu hari, telfon kantor
berdering. Karena si admin yang biasa nelfon ini nggak masuk, nyokap gua lah
yang waktu itu menerima telfon. Rupanya yang terdengar adalah suara perempuan
berbahasa Inggris. Jadi di kantor nyokap gua ini ada salah satu karyawan yang
asalnya dari Inggris. Nah rupanya yang menelfon ini adalah istri dari si
karyawan bule. Demi keamanan dan kenyamanan, kita samarkan namanya ya. Sang suami
kita sebut Bruce dan istrinya kita sebut Hermione.
Hermione: “Can I speak to my
husband?”
Nyokap: “Sure, wait.”
Nah nyokap gua memanggil Pak
Bruce namun tak kunjung ada jawaban. Dari mejanya, nyokap memanggil temannya
dengan suara yang agak keras, sebut saja Pak Sanji. Pak Sanji ini orang dari
suku Jawa, sama seperti nyokap gua.
Nyokap: “Pak Sanji, bule ne kuwi
ning ndi yo? Ono telfon soko bojone iki, tapi tak golek tak undang ora nyaut. Opo
budek opo piye yo bulene yo?” (Arti: Pak Sanji, ini bule nya dimana? Ada telfon
dari istrinya, tapi dicariin dipanggil nggak dijawab. Apa bulenya budek atau
gimana ini?) *sembari bercanda*
Bruce: “Nyuwun ngapunten Bu, kulo
teng mriki” (Arti: Maaf Bu, saya di sini) *sembari berjalan dari kejauhan*
Sontak semua yang ada di sekitar
sana terkejut. Bukan karena Bruce dating bersama Ironman, namun karena Bruce
yang bule ini bisa berbahasa Jawa. Untunglah tidak ada konflik berkepanjangan
karena bisa diselesaikan dengan bercanda.
Pak Bruce pun bercerita bahwa ia
adalah keturunan blasteran, Ayahnya dari Inggris dan Ibunya dari Solo. Bukan,
ibunya bukan Jennie. Pak Bruce ini waktu kecil tinggal di Solo namun ia pindah
ke Inggris dan besar di sana. Karena lebih lama di Inggris dan datang dari sana,
maka orang-orang kantor pun mengira bahwa Bruce adalah orang Inggris 102%.
Begitulah, jangan bermain-main
dengan Bruce ya.