Kejadian ini terjadi waktu 2016
sampai 2017. Setahun? Nggak juga sih. Bingung? Jadi sebenernya ini adalah
cerita tentang tahun baru 2017. Iya dong, kan mulainya dari 2015 kan? Okay
skip, mari langsung bercerita.
Gua punya band, namanya
Sudhobool (coba klik deh). Pada suatu waktu, band gua ini diundang sama sebuah jasa trip untuk
ngisi acara tahun baruan di Kepulauan Seribu. Nah, ini kan salah satu tawaran
yang menarik buat band kecil-kecilan. Yang terlintas di pikiran gua sih “lumayan
lah, itung-itung tahun baruan gratis.”. Setelah diskusi mengenai rundown &
teknis acara, gua dan temen-temen setuju. Sebagian dari kami ada yang nggak
ikut karena ada agenda lain. Kalo nggak salah waktu itu ada 10 orang. Intinya,
kami ditanggung selama trip tersebut (transport kapal, makan, bbq), kalau ada
lebih ya bisa untuk fee.
Pada hari H, 31 Desember 2017,
kami ngumpul di kost salah satu personel. Kami pikir biar berangkat bareng ke
stasiun nggak terlambat. Oh iya, kami dan pihak penyedia trip (sebut aja XX)
janjian di St. Jakarta Kota sekitar jam 6an. Menyadari bahwa aktivitas pagi
adalah musuh kami, maka kami ngumpul bareng juga biar gak ada yang kesiangan. Akibat
kebiasaan yang sulit hilang, di antara kami ada yang tidur 2 jam, 3 jam, bahkan
gak tidur. Antusias bosqu.
Setelah sampe di St. Jakarta Kota,
ternyata pihak XX belum dateng. Kami hubungin, akhirnya kami disuruh berangkat
dulu ke Muara Kamal. Rundown hanya sekedar rundown. Di jadwal kami tertulis jam
8 sudah naik kapal, tapi rombongan XX dan peserta lain baru dateng jam 10.30.
Gua mencoba berpikir positif, mungkin mereka berangkat dari Dubai (GMT +4).
Setelah mencoba menahan gondok,
kami akhirnya berangkat. Tujuan pertama ke Pulau Kelor. Satu hal yang identik
di pulau ini adalah Benteng Martello. Ketika meletakkan kaki kami di pulau ini,
sebagian dari kami jalan-jalan keliling pulau, kecuali Bacang, Hanief, dan
Iyus. Iyus wajar, dengan jiwa siluman kukang, sangat sulit melihat dia beraktivitas
di siang hari.
Okay skip, lanjut ke pulau
selanjutnya, Pulau Onrust. Pulau ini tempat kami bermalam. Di sini juga nanti
kami akan perform, makan, tidur, bertanding badminton, serta memanen getah
karet. Waktu sampe di Onrust, hal yang kami cari adalah makanan. Sebenernya nggak
cuma di Onrust, kami emang selalu nyari makanan. Gua agak sedikit curiga karena
“hm bukannya seharusnya dapet makan? Ah mungkin aku saja yang terlalu berharap.”.
Akhirnya karena kelaperan, kami terpaksa makan di warung nasi di sana.
Gua dan Tyo pesen nasi, sayur
sop, telur, & 1 gorengan. Harganya 17ribu. Wah ini Onrust atau perkantoran
di Sudirman ya? Ah yasudah deh, daripada laper. Kemudian Yudha dateng, dia juga
mau makan. Dia mikir “ikan adalah komoditi, harusnya lebih murah”. Nyatanya? Nasi
dan ikan juga harganya 17ribu. Mungkin di sini 17ribu rupiah adalah harga makan
apapun, mau sayur, tahu, ikan, jerami, fiber optik, dan lain-lain.
Malam pun menjelang, mendekati
waktu kami perform. Akhirnya pihak XX ngomong sama kami (Iya, sejak naik kapal
sampe hampir jam 20.00 WIB (bukan waktu Dubai lagi), pihak tersebut gak ngomong
apa-apa dengan kami). Kami ditanya, mau makan malam dulu atau perform dulu,
kami pilih perform aja dulu. Kami perform akustikan, sembari duduk melingkar
dengan para peserta trip di kiri-kanan-depan kami. Daripada perform akustikan,
waktu itu sebenernya lebih mirip dengan pengajian aliran sesat.
Singkat cerita, selesai perform
kami makan malam. Abis makan malam, kenyang. Yaiyadong. Pokoknya skip lah ya
sampe tahun baru jam 00.00, jeger jeger, abis itu tidur. Di cottage? Guest house?
Tidak. Kami tidur di saung. Di pinggir pantai, tengah malem, nggak mungkin
dingin lah ya? Sebagian dari kami masih mempertanyakan. “makan, minum, dan
lain-lain itu tenang aja, apa maksudnya XX yang tenang aja ya? Kita makan siang
beli, jajan beli, minum beli. Makan malem doang dapet. Ah sudahlah, besok pasti
dapet sarapan kan?”. Salah, tentu salah. Kami sarapan masing-masing. Dengan isi
dompet (yang percaya diri gak usah bawa cash) yang ada, kami sarapan nasi
putih, pop mie, dan gorengan. Pokoknya kami berusaha makan yang ada, masih
untung kami gak mencoba fotosintesis.
Esoknya, kami pulang menuju
Jakarta lagi. Eh maksudnya Pulau Jawa. Gua inget, waktu itu kami pulang berbarengan
sama sebuah insiden kapal yang terbakar di laut, syukur kami masih selamat
sampe sekarang. Setelah sampe di Pulau Jawa, kami puas-puasin jajan, minum, dan
hal-hal lain yang sebenernya biasa aja. Oh iya, di Kep. Seribu sana, kita agak
ketahan untuk jajan karena di sana yang murah hanya senyum.
Itu aja yang bisa diceritain,
kalo terlalu detail nanti dianggep pencemaran nama baik atau apa ehehe. Yasudah,
intinya belajarlah bertahan hidup. Walaupun masih di Provinsi DKI Jakarta,
dibilang bakal ditanggung semuanya, tetep lah harus siap-siap semuanya. Minimal
siapin obat maag.